Jumat, 10 Juli 2020

"Ya, Masih Ada Harapan" Pikirnya

Sampai kapan kita harus menunggu? Sampai kapan kita harus menahan diri agar bisa mendapatkan sesuatu dengan dalih "ya masih ada harapan"? Sambil memegang ponsel, menatap sederet kisah dari banyak unggahan di media sosial yang belum kita ketahui kebenarannya. Mungkin saja, semua yang di posting hanya dari satu sisi, tidak akan mereka membagikan konten sisi buruk bahwa setiap malam harus debat sampai bosen sama pacar padahal di story yang dibuat menggambarkan kisah romantisme versi kekinian ala mereka. Bisa saja bukan. Adapula kisah pilu tentang sakitnya mencintai, mereka yang patah, lunglai, sampai dengan menggerusnya rasa percaya diri di hadapan orang lain hanya karena ucapan seseorang yang dianggap istimewa itu mengungkapkan bahwa dirinya sangat kurang dibanyak hal. Oh mengapa itu penting baginya? Astaga sungguh dunia digital era postmodern ini sangat berbeda. 

Kembali kita congkel masalah harapan, kamu yang sedang duduk diam membaca ini apa pernah berfikir bahwa harapan itu hanya sebatas kata? Atau menjadikan harapan seperti suplemen hidup? Tentu saja, pasti kalian pernah memikirkan apa sebenarnya yang kalian inginkan dan kalian harapkan, hanya saja beebeda ornag berbeda pula caranya. Ada dua orang yang diberi materi tentang harapan, yang pertama menganggap bahwa "baiklah materi ini bisa menjadikanku sebagai A kelak jika aku berbuat B, C, D. Emm apa aku langsung tindak aja ya nanti tau hasilnya." Berbeda dengan orang kedua yang seperti ini "Materi ini bisa berpeluang bagiku jika aku seperti ini hanya saja apa memang bisa ya jika dilakukan. Tapi kalau dilakukan gimana caranya, trus apa yg kudapat dan dampak bagiku gimana?" Saya bukan bermaksud membandingkan keduanya, namun mengambil garis bagaimana harapan membentuk pola pikir anda. Ya, terlalu muluk memang tapi dari harapan itulah ornag pertama akan melakukan something dengan cara alur maju maksudnya melakukan sesuatu dengan cara dan orientasi pada perilaku menuju hasil dengan cara bertindak. Sedangkan orang kedua yakni memperlakukan harapan sebagai peluang juga hanya saja alurnya sorot balik atau campuran. Tidak langsung maju, ia memikirkan harapan dan cara ia bertindak tapi kembali lagi bagaimana feedback yang ia dapat dan apa bisa ia melakukannya. Sederhananya seperti itu. 

Harapan bisa mempengaruhi kita menuju hal yang sangat baik namun juga sebaliknya menjerumuskan kita apabila harapan tidak terpenuhi. Maka kendali akan harapan itulah yang harus kita jaga, harus seimbang antara harapan-rasionalitas-aksi untuk bisa menjalani hidup lebih seimbang. 

Gresik, 10 Juli 2020

celoteh

kalian sering gak sih? merasa capek, jenuh, atau kalau nggak merasa bahwa diri kalian berada dalam posisi yang sangat asing. bukan, maksudku...