Sabtu, 07 Maret 2020

Warung Indonesia


Warung Indonesia
Oleh Meilisa Dwi Ervinda

Desas-desus kaca berita
Bak makanan pembuka
Dengan semangkuk aksara, membius tiap pengunjungnya
Tuangan saus hasut serta hoax
Jadi sorotan utama
Jangan lupakan garbu politik dan sendok ekonomi sebagai acuanya

Selamat datang di Warung Indonesia
Penyuguh utama kekayaan ukit yang melimpah ruah
Menjadi incaran dunia dari tiap keberagaman yang ada
Menggoda selera dengan rentetan menu konflik penggempar publik

Kau tahu? Di dalamnya ada bisikan gula janji perubahanan
Juga berteriak mempermainkan kepercayaan
Menikam cuka keadilan
Serta tak segan melebur dan mendidihkan uang hasil penggerut rakyat kecil

Cobalah kemari..
Ke Indonesia yang panas ini
Dengan demokrasi yang tumpang tindi
Pemilik jus kesenjangan ekonomi
Tak ada yang seperti ini
Setiap saatnya adalah penikmat negeri
Kuasanya pemilik menu cantik pendamba komisi
Yang tak usah rupiah sebagai alat tukarnya
Cukup aksara pelukis semuanya.
Ya.. menggores tiap inci Warung Indonesia.

Gresik, 25 Januari 2018


GORESAN SENI DARI BU HAR


GORESAN SENI DARI BU HAR
Oleh Meilisa Dwi Ervinda
Ruangan ukuran 4x5 meter itu terasa sunyi, setiap sudutnya pasti ada barang barang antik yang menempel. Yang paling mencolok adalah lukisan ukuran 1x1,5 meter yang berisi seorang wanita paruh baya sedang bersimpuh di kaki lelaki jakun berkulit putih, wanita paruh baya tersebut seakan memohon ampun. Di belakangnya terdapat goresan pedang yang amat mengerikan, mengisahkan penderitaan yang tak kunjung usai, dengan awan hitam dan debu terbang yang meninggi. Selain lukisan tersebut, terdapat banyak lagi lukisan-lukisan kecil di sebelahnya. Di bawah lukisan wanita paruh baya terdapat ranjang untuk satu orang dan meja kecil di sebelah kirinya. Sebuah easel tempat kanvas menggantung itu berdiri tegak di samping lemari kecil. Cat air, cat minyak, maupun kuas berbagai ukuran tergeletak di mana-mana. Untuk ukuran pencahayaan, memang diakui bahwa pengatur ruangan itu sangat ahli sehingga ruangan itu sangat nyaman. Jika orang yang tidak tahu pasti ruangan itu dikira tempat pameran lukisan yang harganya amat sepadan dengan karya yang dibuat.
Seorang pria berusia 24 tahun duduk termenung, menggerak gerakkan kuasnya. Memandang lekat lukisan yang baru dibuatnya. Tangannya masih penuh dengan bekas cat yang setia menempel, ia terpaku, mengingat kembali masa dimana sebelum Ia mengenal dunia yang unik ini.
“kamu harus punya mimpi nak. Semua orang wajib memiliki mimpi dimasa depan mereka,” ujar wanita berkacamata dengan hijab seadanya.
“tapi bu. Saya hanya anak pemulung. Buat apa mimpi toh semua juga cuma ngayal tok” bantah seoarang anak dengan tubuh kurus dan rambut keriting.
“ya.. untuk itu, buktikan kalau anak pemulung bisa juga sukses seperti yang lain. Kamu harus yakin An,” dengan nada yang meninggi. Mencoba meyakinkan anak laki-laki di depannya. “saya bingung bu. Saya gak mau bahas mimpi. Isinya cuma kayak gelas plastik yang lusuh, kosong belaka” ujar laki-laki bernama Aan.
Aan mengambil buku tugasnya lalu keluar, mengabaikan perempuan berkacamata yang menatapnya dengan lamat. Mencoba berharap bahwa murid kesayangannya itu percaya pada ucapanya.
 Aan setiap harinya mencari botol plastik, kardus, kaleng, dan benda lain yang bisa dijual. Ia membantu ibunya mencari nafkah. Semenjak bapaknya meninggal setahun yang lalu, ia dipaksa untuk menjalani hidup dengan tekanan yang berat. Apalagi Aan memilki seorang adik perempuan yang menjadi tanggung jawabnya. Kini Aan adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab atas kehidupan ibu dan adiknya.
Ketika itu, Aan tak sengaja mencari barang rongsokan ke kompleks temoat tinggal gurunya. Iya, Bu Har memergoki murid terpandainya memilah-milah sampah. Aan terkejut dan ia langsung lari saat Bu Har menyapanya dan mengajaknya masuk ke dalam. Betapa gelisahnya Aan saat  guru killer di sekolah itu tau kalau ia memulung. Entah ejekan dari teman-temanya saja sudah membuat tangannya mengepal, apalagi kalau sampai guru-guru lain juga tau soal ini, bisa-bisa ia akan semakin dijatuhkan. “kenapa semuanya sangat menyiksa”batin Aan.
Hari-hari Aan makin menjadi, tiap ujaran kebencian dan olokan teman temannya makin menghantui hidupnya. Mereka tak segan-segan menghina dan memukul Aan. Apalagi saat Aan mendapat  peringat kelas, teman teman yang tak menyukainya menyebarkan berita tak benar bahwa hasil ulangannya itu menyontek. Sabar, Aan belajar kata itu, ia ingat pada nasehat ibunya.
Bu Har, guru yang paling ditakuti itu membelanya, mengungkap fitnah itu, dan menjadikan dirinya sebagai orang kepercayaan Bu Har. Aan semakin dekat dengan Bu Har. Tak jarang Aan menghabiskan banyak waktu untuk membantu Bu Har memasukkan nilai, bahkan Bu Har mengajarinya bermain dnegan kuas.. Dari Bu Har pula ia mengetahui tentang indahnya dunia seni yang mengekspresikan setiap pembuatnya.
“mimpi itu seperti cat ini An,” sambil mengoleskan kuas pada kanvas. “ dan kuas adalah usahamu. Saat kamu punya kuas saja, tanpa kamu miliki cat nya. Kamu tak akan menghasilkan lukisan dari mimpi-mimpimu yang di namakan dari  hasil usaha.” Jelas Bu Har pada Aan.
“keyakinanmu, tekadmu, dan kemampuanmu bisa melebihi orang yang menghinamu saat ini” lanjut Bu Har dengan mencampurkan warna kuning dan merah, menambahkan sedikit air lalu mengaduknya, mengoleskan warna orange dan membuat gradasi senja yang mengesankan. “ saat kamu benar benar merasa lelah pada kehidupan yang kamu jalani, tengoklah sebentar, tengok ciptaan Tuhan yang begitu mengesankan ini, rasakan tiap kenikmatan yang Tuhan beri padamu. Hidup tak hanya untuk mengurusi hinaan orang lain,hidup itu untuk mengabdi, pada Tuhan, pada keluarga yang kamu sayangi, pada kewajiban-kewajiban yang kamu tanggung. Dan pada mimpi, mimpi tempatmu menggantungkan masa depanmu kelak” Bu Harni membetulkan kerudungnya yang agak bergeser. Aan tak berkomentar apapun, ia mendengarkan dnegan seksama, memainkan kuas kecli yang ia pegang.
“mulailah hari ini, jangan bingung mimpi apa yang kamu inginkan, jalani saja apa yang kamu suka, semua pasti ada jalanya. Dulu ibu juga begitu, bimbang pada keadaan yang tidak memungkinkan, ibu bahkan tak punya pegangan apapun, tak punya siapapun untuk membagi curahan hati  ibu. Kalau kamu bimbang kamu bisa tanyakan pada ibu, anggap saja ibu ini tempatmu mengaduk warna yang akan kamu oleskan. Haha.. ibu terlalu banyak bicara padamu, dan kamu hanya diam saja tak merespon apapun” Bu Har meletakkan kuasnya, kemudian berdiri dan menuju laci kecil di sudut ruang seni. Mengambil kotak berwarna coklat dan memberikanya pada Aan.
“ini, simpan baik baik. Nanti kalau kamu udah lulus dan melanjutkan perjalananmu kamu selalu ingat ini. Ibu hanya berharap kamu segera punya mimpi yang akan kamu capai nantinya” Bu Har tersenyum pada Aan. Aan menerimanya dengan tanda tanya. Bagaimana gurunya bisa sebaik ini padanya. Padahal ia bukan siapa-siapa, Bu Har mengajarinya soal mimpi. Mimpi yang harus ia miliki, ia harus bermimpi. Wajah Aan berubah, ia seperti menemukan hal yang di carinya.
Pria itu mengembuskan nafas berat, seakan kehidupannya yang dulu tak bisa hilang dari ingatan, olokan dan kekerasan batin yang dialaminya menjadi hantu masalalu yang membayang-bayangi. Bu Har, apa kabar beliau sekarang, berkat beliau, ia bisa menjadi seniman sukses. Karyanya seakan menjadi sorotan baik di nasional maupun mancanegara. Ia tak pernah menyangka, hanya karena kotak coklat pemberian Bu Har bisa berdampak besar bagi masa depannya.
Aan mencuci tangannya, kembali memandang hasil goresan kuasnya, beranjak mengambil dan membuka kotak coklat itu, sebuah foto tokoh terkenal bernama Leonardo da Vinci berad di dalamnya. Tokoh yang masuk kedalam 10 pelukis paling terkenal di dunia dan pemilik beragam bidang dari seni dan ilmu. Menciptakan lukisan Jamuan Terakhir  dan Monalisa. Ia mencari tau siapa tokoh itu dan menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan panjangnya.Dalam hati, ia berterimah kasih kepada Bu Har, orang yang mengenalkannya pada Leonardo  da Vinci dan pada seni yang di cintainya kini.
Ketahuilah, bahwa mimpi memang bagaikan cat yang akan menciptakan warna indah didalam tiap usaha yang mengalir seperti kuas yang bergerak menuntun cat tersebut.


SANG GADIS SAMPAH


SANG GADIS SAMPAH
Oleh Meilisa Dwi Ervinda

Di semak belukar nan meliut
Tangan kasar mencabut akar penghidupan
Mata sayunya pertanda akan letihnya mengais ketidak pastian
Gelondongan kardus jadi bantalan tiap harinya

Di ujung rekah pulau gempa ini
Hijab kelabunya menjuntai indah
Bersama pulir keringat yang menjadi saksinya
Tuntutan ilmu ia sodorkan
Tinggalkan sosok bermata sayu
Demi bakti pada agamanya juga pada kasih yang menggema
Ia berguman perlahan, ada yang menagih sebuah kerinduan...
Merangsang jiwa tuk merindu pada awan
Ialah Sang Gadis Sampah

Dari kardus..ia dibesarkan
Dengan botol bekas.. ia belajar kesabaran
Dan dari tumpukan sampah yangtak dipedulikan orang pula..
Ia merantau dengan tangguh didalamnya
Sepak terjal daun meliut dalam genggamannya
Pijak mantap dalam tiap haluanya\juga rekaan batu ia langkahkan demi kehidupan pencerah
Untuk menuju peradaban mulia
Ialah Sang Gadis Sampah
Pergi jauh, amat jauh kakinya melangkah
Mengais pundi cakrawala
Menagih akhir dari sebuah kebahagiaan
Dari pulau gempa yang merekah dengan jutaan umat didalamnya
Sang Gadis Sampah
Tutur katanya bak rembulan yang bersinar
Pemancar dalam kalbu ibundanya
Gresik, 29 Desember 2017

Bersama Kakek



Angin menari beriringan,melambaikan tangan pada rintik hujan yang bersenandung. Menyisakan hawa dingin dan genangan air yang tak dapat mengalir sempurna. Seorang gadis kecil semakin mengeratkan pelukan pada tas yang dia bawa. Menunggu kristal bening itu berhenti jatuh, berharap ia akan segera pulang dan menarik selimut dengan nyaman.
Dari jauh, terlihat payung bergerak mendekat, sosok kakek tua yang mengendalikannya menerobos kristal, menghampiri gadis tersebut dan menghampurkan pelukan padanya. “Icca, menunggu lama ya, maafkan kakek, hujan sangat lebat jadi kaki kakek tak bisa berjalan cepat” ujar sang kakek memberi penjelasan. “ Icca gak lama kok, Icca cuma lapar”ucap sang gadis dengan menyeringai. “Ohh.. cucu kakek lapar, iya ayo sini kakek gendong, sayang kan nanti sepatunya basah” lanjut sang kakek sambil menaruh payung dn berganti menaikkan gadis kecil itu ke punggung rentanya. Perjalanan pulang mereka diiringi senandung ria dari gadis kecil bernama Icca tersebut. Membuat cipratan kecil bersama langkah kaki dan obrolan hangat di musim penghujan.
Suara hewan malam bersautan, membuat lagu yang berirama dan terdengar merdu seakan menghiasi rumah kecil di pojok sungai. Iya tempat tinggal gadis kecil dan kakeknya. “Begini Kek, apa terlalu keras?” tanya Sang gadis, “Ya seperti itu, lebih ditekan lagi, nah pinter sekali cucu Kakek ,” pujinya. Icca membetulkan posisi duduknya, menekan lebih keras punggung renta tersebut. Beginilah akibatnya, saat Sang Kakek bersikeras untuk menggendong dirinya, padahal berat badan Icca tidak ringan lagi. Gadis usia 7 tahun yang sangat pendai di sekolah itu dengan polosnya menawarkan diri untuk memijat kakeknya.
“Kakek...”Icca berkata sambil mengoleskan minyak gosok.
“Iya sayang.. ada apa? Coba katakan pada kakek” ujar kakek
“Besok Bu Guru menyuruh orang tua murid untuk datang ke sekolah mengambil hasil nilai ujian minggu lalu” Icca menarik napas “Tapi...Icca” lanjutnya. “ Tapi kenapa cantik,kan ada kakek,  kakek yang akan mengambil rapor itu, dan... melihat nilainya, apakah nilai Icca merah seperti sambal yang tadi kita makan, atau... biru seperti awan, hayoo awas ya kalau merah, haha”ucap kakek sambil menggelitiki Icca, Icca seakan tak bisa berhenti tertawa. “Ampun kek, ampun.. haha geli” ucap Icca. Tak lama kemudian Icca tertidur di pangkuan kakeknya, “Andai saja mereka disini, pasti.. pasti Icca akan sangat bahagia” ujar kakek dalam hati.
Kakek berkata “Wahh.. cucu kakek pinter ya, nilainya bagus semua, apa lagi tadi Icca dapat juara kelas kan, Selamat ya Sayang.” Kakek dan Icca baru saja keluar dari ruang kelas, Icca mendapatkan juara kelas, Icca memang tergolong anak yang pandai dan mudah bergaul di sekolah. Tak salah kalau banyak yang memuji Icca saat Ia mendapat juara tadi. Icca berhenti melangkah,”Kenapa nak?” tanya kakek. Kakek mengikuti arah pandang Icca. Seorang anak dan orang tuanya sedang bercanda, sang ibu mengelus rambut anak tersebut, mencium pipinya dan memeluknya, dan sang ayah memberikan kotak hadiah. Mereka tertawa bersama. Mungkin anak itu sama seperti Icca, telah mendapatkan juara kelas, atau nilainya sangat bagus, jadi orang tuanya memberi hadiah. tapi bukan itu yang menjadi masalah.
Icca melamun menyaksikannya, melihat ayah dan ibu anak tersebut begitu menyayanginya. Icca seakan diperlihatkan pada hal yang sangat Ia inginkan. Dada kakek seakan mendapat hantaman keras, menyaksikan cucu kesayanganya, menginginkan hal tersebut meski tanpa berucap. Seketika itu, kakek langsung mengajak Icca pulang.
Icca masih diam sejak kejadian tadi siang, kakek bingung harus apa. “Icca.. mau ikut kakek?” tanya kakek. “Tidak kek, Icca tidak berminat” “ Kakek mau menujukkan sesuatu.. pasti Icca senang” bujuk Kakek. Gadis kecil itu tetap diam. Kakek mendekat dan mengelus rambut Icca. “ Ayo sayang.. kita naik sepeda, jadi gak capek”ujar kakek. Icca mengikuti kakek dan naik di sepeda. Kakek menggayuh dengan sekuat tenaga, kakek berteriak “Merdeka... Merdeka.. gayuh seperti pahlawan yang berperang Merdeka..” Icca tertawa mendengar suara kakek yang teriak teriak. Icca ikut berteriak bersama kakek.
Di hulu sungai yang luas, dengan air yang mengalir deras, disinilah Icca dan kakeknya berada. “dulu.. waktu ayah kamu masih kecil, kakek sering mengajaknya kemari, hanya sekedar untuk menangkap ikan, ataupun mandi di sungai dan membuat kapal kapalan dari daun yang kering. Sekarang.. meski ayah kamu tidak ada, tapi anaknya sudah besar. Icca mau main kapal kapalan, seperti almarhum ayah Icca dulu” tawar sang kakek. “ mau kek, Icca mau buat kapal kapalan seperti ayah. Lalu nanti kapalnya mengalir bersama air dan sampai ke ayah yang ada disana. Buatkan Icca kapal kek” ucap Icca dengan riangnya.
Setelah membuat kapal dan melepaskannya diatas sungai yang megalir dalam hati Icca berdoa agar kapal tersebut bisa menyampaikan kerinduanya pada sosok ayah yang tak pernah Ia lihat. Kakek tersenyum, menyaksikan cucunya yang berjingkrak saat kapalnya mendahului milik sang kakek.
Kemudian sang kakek membawa Icca ke tempat pohon beringin besar. Di balik pohon itu, terlihat pemandangan gunung yang indah dan sungai yang mengalir, burung burung yang berterbangan seakan akan kembali ke rumahnya masing masing. Pemandangan sore hari yang indah dengan sinar matahari yang menyertainya. “Icca, satu lagi, kakek juga mengajak ayahmu dulu kesini. Lihat di batang pohon beringin itu.” Perintah sang kakek, Icca mendekat, seperti ada ukiran yang menempel di pohon tersebut. “itu adalah nama ayahmu dan kakek, ayahmu yang membuatnya. Katanya agar kakek selalu ingat kalau ayahmu selalu sayang pada kakek” jelas sang kakek sambil menghapus sela di matanya. “ ayahmu adalah orang yang sangat penurut dan pintar seperti kamu, kakek sangat ingat Ia rela kehujanan demi membantu kakek mengumpulkan kayu di hutan, lalu Ia sakit. Haha” sambil tertawa. Icca terdiam mendengarnya, airmatanya terus mengalir, tangan kecilnya terus mengelus nama yang ada di pohon tersebut. “sekarang Icca juga begitukan, sangat baik pada kakek. Kakek sayang sekali pada Icca” kakek mendekati Icca dan mengelus rambutnya.
“maafkan Icca kek, Maafkan Icca yang menginginkan hal yang tidak ada, maafkan Icca yang merepotan kakek. Icca sangat sayang pada kakek” jawab Icca sambil memberikan secarik surat. “Apa ini.. cucu kakek sudah bisa membuat surat sendiri” “itu surat khusus untuk Kakek” ucap Icca sambil memeluk pinggang kakeknya. Setelah itu mereka pulng ke rumah dan kakek membaca surat tersebut di rumah ditemani hewan malam yang berirama.

Dear Kakek Icca tersayang

            Hari ini kata teman Icca adalah hari ayah. Tapi Icca gak tau harus mengucapkan hari ayah pada siapa. Icca tak punya ayah sejak Icca dilahirkan. Bagi Icca, kakek adalah orang tua Icca yang sangat berharga, Icca bangga punya kakek yang kuat dan hebat seperti kakek Icca. Icca minta maaf jika Icca nakal atau tidak menuruti perintah kakek, Icca sayang...sekali pada kakek. Semoga kakek selalu sehat dan terus bersama Icca hingga Icca menjadi dokter nanti. Selamat Hari Kakek, untuk kakek Icca tersayang.

Peluk cinta dari Icca

            Kakek mengusap air matanya. Icca kembali mendengkur di pangkuan kakeknya. Senyum tipis yang terlihat dari wajah Icca membuat kakek ikut tersenyum. Gadis kecil yang memiliki pengertian dan kesederhanaan itu sangat membuat bangga kakeknya. Kebahagiaan yang Ia dapatkan adalah saat  gadis kecil itu menerima sosok kakek yang sangat ia cintai dan ada bersamanya dirinya saat ini.



celoteh

kalian sering gak sih? merasa capek, jenuh, atau kalau nggak merasa bahwa diri kalian berada dalam posisi yang sangat asing. bukan, maksudku...