GORESAN
SENI DARI BU HAR
Oleh
Meilisa Dwi Ervinda
Ruangan
ukuran 4x5 meter itu terasa sunyi, setiap sudutnya pasti ada barang barang
antik yang menempel. Yang paling mencolok adalah lukisan ukuran 1x1,5 meter
yang berisi seorang wanita paruh baya sedang bersimpuh di kaki lelaki jakun
berkulit putih, wanita paruh baya tersebut seakan memohon ampun. Di belakangnya
terdapat goresan pedang yang amat mengerikan, mengisahkan penderitaan yang tak
kunjung usai, dengan awan hitam dan debu terbang yang meninggi. Selain lukisan
tersebut, terdapat banyak lagi lukisan-lukisan kecil di sebelahnya. Di bawah
lukisan wanita paruh baya terdapat ranjang untuk satu orang dan meja kecil di
sebelah kirinya. Sebuah easel tempat kanvas menggantung itu berdiri tegak di
samping lemari kecil. Cat air, cat minyak, maupun kuas berbagai ukuran
tergeletak di mana-mana. Untuk ukuran pencahayaan, memang diakui bahwa pengatur
ruangan itu sangat ahli sehingga ruangan itu sangat nyaman. Jika orang yang
tidak tahu pasti ruangan itu dikira tempat pameran lukisan yang harganya amat
sepadan dengan karya yang dibuat.
Seorang
pria berusia 24 tahun duduk termenung, menggerak gerakkan kuasnya. Memandang
lekat lukisan yang baru dibuatnya. Tangannya masih penuh dengan bekas cat yang
setia menempel, ia terpaku, mengingat kembali masa dimana sebelum Ia mengenal
dunia yang unik ini.
“kamu harus punya mimpi nak. Semua
orang wajib memiliki mimpi dimasa depan mereka,” ujar wanita berkacamata dengan
hijab seadanya.
“tapi bu. Saya hanya anak pemulung.
Buat apa mimpi toh semua juga cuma ngayal tok” bantah seoarang anak dengan
tubuh kurus dan rambut keriting.
“ya.. untuk itu, buktikan kalau
anak pemulung bisa juga sukses seperti yang lain. Kamu harus yakin An,” dengan
nada yang meninggi. Mencoba meyakinkan anak laki-laki di depannya. “saya
bingung bu. Saya gak mau bahas mimpi. Isinya cuma kayak gelas plastik yang
lusuh, kosong belaka” ujar laki-laki bernama Aan.
Aan mengambil buku tugasnya lalu
keluar, mengabaikan perempuan berkacamata yang menatapnya dengan lamat. Mencoba
berharap bahwa murid kesayangannya itu percaya pada ucapanya.
Aan setiap harinya mencari botol plastik,
kardus, kaleng, dan benda lain yang bisa dijual. Ia membantu ibunya mencari
nafkah. Semenjak bapaknya meninggal setahun yang lalu, ia dipaksa untuk
menjalani hidup dengan tekanan yang berat. Apalagi Aan memilki seorang adik
perempuan yang menjadi tanggung jawabnya. Kini Aan adalah kepala keluarga yang
bertanggung jawab atas kehidupan ibu dan adiknya.
Ketika itu, Aan tak sengaja mencari
barang rongsokan ke kompleks temoat tinggal gurunya. Iya, Bu Har memergoki
murid terpandainya memilah-milah sampah. Aan terkejut dan ia langsung lari saat
Bu Har menyapanya dan mengajaknya masuk ke dalam. Betapa gelisahnya Aan saat guru killer di sekolah itu tau kalau ia
memulung. Entah ejekan dari teman-temanya saja sudah membuat tangannya
mengepal, apalagi kalau sampai guru-guru lain juga tau soal ini, bisa-bisa ia
akan semakin dijatuhkan. “kenapa semuanya sangat menyiksa”batin Aan.
Hari-hari Aan makin menjadi, tiap
ujaran kebencian dan olokan teman temannya makin menghantui hidupnya. Mereka
tak segan-segan menghina dan memukul Aan. Apalagi saat Aan mendapat peringat kelas, teman teman yang tak
menyukainya menyebarkan berita tak benar bahwa hasil ulangannya itu menyontek.
Sabar, Aan belajar kata itu, ia ingat pada nasehat ibunya.
Bu Har, guru yang paling ditakuti
itu membelanya, mengungkap fitnah itu, dan menjadikan dirinya sebagai orang
kepercayaan Bu Har. Aan semakin dekat dengan Bu Har. Tak jarang Aan
menghabiskan banyak waktu untuk membantu Bu Har memasukkan nilai, bahkan Bu Har
mengajarinya bermain dnegan kuas.. Dari Bu Har pula ia mengetahui tentang
indahnya dunia seni yang mengekspresikan setiap pembuatnya.
“mimpi itu seperti cat ini An,”
sambil mengoleskan kuas pada kanvas. “ dan kuas adalah usahamu. Saat kamu punya
kuas saja, tanpa kamu miliki cat nya. Kamu tak akan menghasilkan lukisan dari
mimpi-mimpimu yang di namakan dari hasil
usaha.” Jelas Bu Har pada Aan.
“keyakinanmu, tekadmu, dan
kemampuanmu bisa melebihi orang yang menghinamu saat ini” lanjut Bu Har dengan
mencampurkan warna kuning dan merah, menambahkan sedikit air lalu mengaduknya,
mengoleskan warna orange dan membuat gradasi senja yang mengesankan. “ saat
kamu benar benar merasa lelah pada kehidupan yang kamu jalani, tengoklah
sebentar, tengok ciptaan Tuhan yang begitu mengesankan ini, rasakan tiap
kenikmatan yang Tuhan beri padamu. Hidup tak hanya untuk mengurusi hinaan orang
lain,hidup itu untuk mengabdi, pada Tuhan, pada keluarga yang kamu sayangi,
pada kewajiban-kewajiban yang kamu tanggung. Dan pada mimpi, mimpi tempatmu
menggantungkan masa depanmu kelak” Bu Harni membetulkan kerudungnya yang agak
bergeser. Aan tak berkomentar apapun, ia mendengarkan dnegan seksama, memainkan
kuas kecli yang ia pegang.
“mulailah hari ini, jangan bingung
mimpi apa yang kamu inginkan, jalani saja apa yang kamu suka, semua pasti ada
jalanya. Dulu ibu juga begitu, bimbang pada keadaan yang tidak memungkinkan, ibu
bahkan tak punya pegangan apapun, tak punya siapapun untuk membagi curahan
hati ibu. Kalau kamu bimbang kamu bisa
tanyakan pada ibu, anggap saja ibu ini tempatmu mengaduk warna yang akan kamu
oleskan. Haha.. ibu terlalu banyak bicara padamu, dan kamu hanya diam saja tak
merespon apapun” Bu Har meletakkan kuasnya, kemudian berdiri dan menuju laci
kecil di sudut ruang seni. Mengambil kotak berwarna coklat dan memberikanya
pada Aan.
“ini, simpan baik baik. Nanti kalau
kamu udah lulus dan melanjutkan perjalananmu kamu selalu ingat ini. Ibu hanya
berharap kamu segera punya mimpi yang akan kamu capai nantinya” Bu Har
tersenyum pada Aan. Aan menerimanya dengan tanda tanya. Bagaimana gurunya bisa
sebaik ini padanya. Padahal ia bukan siapa-siapa, Bu Har mengajarinya soal
mimpi. Mimpi yang harus ia miliki, ia harus bermimpi. Wajah Aan berubah, ia
seperti menemukan hal yang di carinya.
Pria
itu mengembuskan nafas berat, seakan kehidupannya yang dulu tak bisa hilang
dari ingatan, olokan dan kekerasan batin yang dialaminya menjadi hantu masalalu
yang membayang-bayangi. Bu Har, apa kabar beliau sekarang, berkat beliau, ia
bisa menjadi seniman sukses. Karyanya seakan menjadi sorotan baik di nasional
maupun mancanegara. Ia tak pernah menyangka, hanya karena kotak coklat
pemberian Bu Har bisa berdampak besar bagi masa depannya.
Aan
mencuci tangannya, kembali memandang hasil goresan kuasnya, beranjak mengambil
dan membuka kotak coklat itu, sebuah foto tokoh terkenal bernama Leonardo da
Vinci berad di dalamnya. Tokoh yang masuk kedalam 10 pelukis paling terkenal di
dunia dan pemilik beragam bidang dari seni dan ilmu. Menciptakan lukisan Jamuan Terakhir dan Monalisa.
Ia mencari tau siapa tokoh itu dan menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan
panjangnya.Dalam hati, ia berterimah kasih kepada Bu Har, orang yang mengenalkannya
pada Leonardo da Vinci dan pada seni yang
di cintainya kini.
Ketahuilah,
bahwa mimpi memang bagaikan cat yang akan menciptakan warna indah didalam tiap
usaha yang mengalir seperti kuas yang bergerak menuntun cat tersebut.