Sabtu, 07 Maret 2020

SANG GADIS SAMPAH


SANG GADIS SAMPAH
Oleh Meilisa Dwi Ervinda

Di semak belukar nan meliut
Tangan kasar mencabut akar penghidupan
Mata sayunya pertanda akan letihnya mengais ketidak pastian
Gelondongan kardus jadi bantalan tiap harinya

Di ujung rekah pulau gempa ini
Hijab kelabunya menjuntai indah
Bersama pulir keringat yang menjadi saksinya
Tuntutan ilmu ia sodorkan
Tinggalkan sosok bermata sayu
Demi bakti pada agamanya juga pada kasih yang menggema
Ia berguman perlahan, ada yang menagih sebuah kerinduan...
Merangsang jiwa tuk merindu pada awan
Ialah Sang Gadis Sampah

Dari kardus..ia dibesarkan
Dengan botol bekas.. ia belajar kesabaran
Dan dari tumpukan sampah yangtak dipedulikan orang pula..
Ia merantau dengan tangguh didalamnya
Sepak terjal daun meliut dalam genggamannya
Pijak mantap dalam tiap haluanya\juga rekaan batu ia langkahkan demi kehidupan pencerah
Untuk menuju peradaban mulia
Ialah Sang Gadis Sampah
Pergi jauh, amat jauh kakinya melangkah
Mengais pundi cakrawala
Menagih akhir dari sebuah kebahagiaan
Dari pulau gempa yang merekah dengan jutaan umat didalamnya
Sang Gadis Sampah
Tutur katanya bak rembulan yang bersinar
Pemancar dalam kalbu ibundanya
Gresik, 29 Desember 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

celoteh

kalian sering gak sih? merasa capek, jenuh, atau kalau nggak merasa bahwa diri kalian berada dalam posisi yang sangat asing. bukan, maksudku...