Minggu, 29 September 2019

Salah Memilih Sesuatu

Salah Memilih Sesuatu
Oleh Meilisa Dwi Ervinda

Aku jatuh sejatuh jatuhnya
Berteriak bersama lambaian jiwa
Namun tiada yang melihatnya
Sendiri, tertimbun cakrawala sunyi

Aku terperosok dalam kubangan magma
Gerah, siksa, sakit menyamakan kedudukan dalam tubuhku
Mereka membantai diriku, siapa yang lebih sadis dari penyakit diri sendiri
Adalah aku yang salah memilih sesuatu

Cukup, aku akan bungkam
Itu kan yang kau mau
Atau takdir Tuhan yang menimang diriku
Bahwa yang baik belum tentu seperti itu

Surabaya, 27 September 2019

Sabtu, 28 September 2019

Detik Detik Sebelum Rasa Ini Mati


Detik Detik Sebelum Rasa Ini Mati
Oleh Meilisa Dwi Ervinda

Mustahil
Jembatan merah di baground foto kita mendadak sirna
Menghilang ditelan kemurkaan surya
Aku hanya bergeming, semua sudah terlanjur

Pohon pohon rindang di bingkai itupun menguakkan api
Bersorak, menyisakan pekat dan abu
Terselip doa dimusnahnya pemandangan itu
Termasuk doa kita berdua

Kau datang
Mengukir satu hal
Merampas banyak hal
Hingga hangusnya foto itu adalah saksi, rasa ini telah mati

Surabaya, 27 September 2019

Senin, 23 September 2019

Opini PELITA 3

Sebenarnya apasih kegunaan gawai? Lalu apa hubungannya dengan minat baca Indonesia?

Saya adalah pelaku pembunuhan waktu, bisa dibilang malah melakukan korupsi tingkat tinggi setiap harinya. Bagaimana tidak, godaan terbesar benda pipih dengan sejuta informasi di dalamnya mrmbutakan mata saya, mungkin tidak hanya saya melainkan jutaan orang di luar sana, iya gawai. Beberapa orang di dunia mengecek gawainya hampir setiap 15 detik sekali, dan beberapa orang juga berselancar di dunia maya entah hanya untuk melihat postingan, memberi like, komen, maupun sekedar menghabis kan waktu mereka.

Penggunaan gawai selain memberi dampak positif arus globalisasi, gawai juga menggerus perlahan minat seseorang di dunia nyata. Contohnya adalah buku. Peminat buku konvensional dengan e-book menjadi perbincangan hangat. Era digital menjadi alasan bahwa semua harus serba dipermudah seperti e-book. Godaan dalam membaca e-book pun sangat beragam karena menjadi satu dengan gawai masing-masing. Dan ya hal tersebut memepengaruhi minat baca seseorang, termasuk di Indonesia.

Indonesia menduduki peringkat 2 dari bawah untuk urusan literasi. Ya miris sekali, dan dewasa ini  untuk mengembangkan budaya literasi di kalangan mahasiswa ada beberapa cara salah satunya adalah mengadakan seminar tentang literasi, seperti yang diadakan menteri keilmuan BEM Universitas Airlangga kemarin.

Pelatihan Literasi (PELITA) ini memberikan kita pandangan betapa pentingnya menulis dan membaca, khususnya di kalangan mahasiswa, dan Ketua BEM FIB, Moch Sholeh Pratama menjadi pematerinya. Mas Sholeh, panggilan akrabnya. Memberikan kita tentang pengalaman beliau yang sering mengirim tulisannya baik di media cetak maupun elektronik. Beliau juga memberikan  tips dan trik untuk tembus media massa, dan memberikan rekomendasi alamat media massa yang dapat kita coba.

"Yang penting tulis saja dulu" Ujar Mas Sholeh saat menjawab beberapa pertanyaan seputar pembuatan opini.

Dan pelatihan seperti inilah yang dapat menarik generasi muda untuk meningkatkan minat baca. Tidak hanya membuka pikiran kita, membaca juga menjadi refleksi diri untuk mulai berpikir kritis. Dan menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Mari menjadi generasi muda yang siap berkarya, meningkatkan keunggulan dengan membaca dan menulis, memanfaatkan gawai dengan sebaik baiknya. Dan berproses menjadi lebih baik.

Surabaya, 16 Agustus 2019

Puisi Meja Makan

Puisi Meja Makan

Meilisa Dwi Ervinda, Bahasa dan Sastra Indonesia 2019

Selamat datang wahai saudaraku
Duduklah, aku ingin mengajakmu bersemayam dalam nikmatnya suguhan malam ini
Di temani aroma sedap kebebasan
Tak lupa sambal level kebiadaban

Ambil piring sendiri, kau bukan raja yang harus dilayani
Bak pemimpin negeri yang tiap lima tahun ganti
Menjejali kami puding janji bertoping gulali
Ah positif sudah rakyatnya sakit gigi

Hanya ada tiga menu, pembuka isi penutup
Kau mau yang mana?
Pilih salah satu, meja kenegaraan ini hanya menginginkan satu kepastian
Bukan kenikmatan sesaat, lalu diterapkan, mencekik orang kelaparan

Oh pilihan yang bagus
Kau langsung memilih kue bertabur emas
Baiklah, bagaimana rasanya? Apa mewakili kemerdekaanmu? Atau malah melebihi ekspektasimu?
Tenang saja, meja ini terbuka 24 jam untuk siapapun, kau boleh datang lagi dan lagi

Asal ada jaminan, kau termasuk orang yang merdeka atau pura pura merdeka?
Sebab, makanan ini dibuatnya pakai dana bukan bualan saja.
Mari saudaraku
Apakah mau berlanjut menjelajah ke lemari kecantikan?

Gresik, 31 Agustus 2019

Kamis, 12 September 2019

Serangan Bradanaya, Menguliti Jiwa Mahasiswa Baru FIB UNAIR


"Kenali Diri Menggali Arti" aksara tersebut bukan hanya sekedar kalimat biasa, melainkan pendobrak semangat. Kata pertama dan kedua, Kenali Diri. Siapa kita? Mengapa kita di sini? Apa yang kita cari? Kapan kita harus memulainya ? Dimana kita memulainya? Dan ya bagaimana cara kita melakukan ini semua? Pertanyaan demi pertanyaan selalu timbul. Kami dikumpulkan tidak serta merta mengatasnamakan PKKMB saja, melainkan mengenali diri kita sebenarnya dari jawaban pertanyaan tersebut. Kata selanjutnya adalah Menggali Arti, yakni memetik pelajaran dari pertanyaan diri yang kita lontarkan. Istilah menggali dapat diterjemahkan membutuhkan perjuangan tidak hanya tenaga, materi, maupun waktu tapi kita juga mencari sesuatu yang sebelumnya belum kita ketahui dan Arti itulah gold yang kita cari. Kenali diri menggali arti, sangat menggambarkan kegiatan yang telah kita lakukan beberapa hari yang lalu yakni Bradanaya 2019.

Hari pertama, corak kebudayaan melekat di tubuh kami. Batik sebagai pakaian khas Indonesia menjadi pilihan terbaik untuk mengawali pembelajaran luar biasa ini. Kedisiplinan, tanggung jawab, dan berani mengakui kesalahan tengah diuji di hari pertama. Siapapun mereka harus berani bertanggung jawab terhadap apa yang mereka perbuat, kesalahan satu orang ditanggung bersama. Ya solidaritas, rasa memiliki, dan empati kami dikoyak keberadaanya. Kami dituntut menjadi orang yang berani berpendapat, tidak hanya manggut-manggut saja saat disuguhi sesuatu. Inilah asam manis hari pertama, kami mengetahui arti dari rasa tanggung jawab.

Masih dengan pakaian batik, sebuah diskusi diciptakan. Tentang manusia baru, dan peran mahasiswa itu sendiri. Kami belajar berpikir kritis terhadap kasus kasus yang ada. Mencari solusi, saling berpendapat, menyanggah satu sama lain hingva tercipta pandangan pandangan baru dari hasil diskusi tersebut. Sebagai mahasiswa kami adalah wadah penyampaian aspirasi masyarakat, kami harus memiliki gerakan pembaharuan, menjadikan pergerakan pergerakan baru untuk rakyat. Menggunakan teknologi sebaik mungkin baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Daya berpikir kritis kami tumbuh melalui wadah tersebut.

Hari kedua, disiplin. Kesalahan yang sudah kami perbuat dan risiko yang kami terima kemarin berbeda dengan hari ini. Masih ada saja debu diantara lantai yang mengkilat. Dan tanggung jawab kami ya membersihkannya ulang. Dengan pakaian serba hitam kami dikenalkan tentang dunia Fakultas Ilmu Budaya, mulai dari ormawa hingga organisasi organisasi kampus. Semua bisa mengikuti sesuai dengan minat bakat masing masing. Fakultas telah memberi sarana untuk berkembang dan saatnya pembuktian apa saja yang dapat kita banggakan untuk alamamater tercinta ini. Tidak hanya organisasi, sosialisasi tentang ruang baca fakultaspun kami terima. Seberapa penting perpustakaan untuk hidup mahasiswa, kami peroleh jawabannya di sini. Sebagai mahasiswa yang dituntut berpikir kritis dan memiliki daya analisis tinggi. Membaca adalah kunci utamanya.

Menginjak akhir, Bradanaya ini memberi pelajaran berharga pada kami. Siapa kita jika tanpa orang sekitar, untuk apa kita jika bukan saling merekatkan menuju kemudahan. Egoisme tidak ada untungnya, yang kita perlukan adalah berjabat tangan, memejamkan mata, menanamkan arti penting fakultas ilmu budaya di hati masing masing. Mencintai almamatermu dengan cara sederhana, cara ikhlas tanpa tuntutan apapun itu lebih baik jika hanya sekedar mengejar gengsi semata. Hari itu, kami dibanjiri airmata dan air kebahagiaan dari siraman sejuk kebersamaan. Menyebutkan kata FIB sekeras kerasnya, menancapkan kecintaan luar biasa pada fakultas tercinta, dan dari Bradanaya inilah kami mendapatkan hal tersebut.

Di hari terakhir, betapa rasa syukur kami panjatkan. Acara istimewa harus berakhir dengan rasa syukur. Setelah menyaksikan penampilan dari ormawa dan sharing ispirasi, acara tersebut ditutup dengan kebersamaan menikmati tumpeng yang khas. Dan rasa kekeluargaan itu membekas dalam benak kami, semua keluarga di FIB ini telah menyambut saudara baru, manusia baru dan itu adalah kami mahasiswa baru. Betaoa beruntungnya kami mendapat keluarga bahagia di Universitas Airlangga ini. Jika beberapa orang menyebutnya substansi artribusi tradisi yang hanya turun temurun saja, tanpa ada sebab pasti mengapa kegiatan itu dilaksanakan, namun kami sadar, kegiatan tersebut berlangsung turun temurun karena pembangunan kepribadian itulah yang unik menjadikan kecintaan kami terbentuk seiring dengan berjalannya waktu. Bradanaya adalah awal dari pengenalan kami di keluarga baru ini.


Bradanaya tidak hanya substansi pengenalan fakultas, atau sekedar artribusi tradisi semata. Bradanaya adalah benih yang begelut dengan hama ketidakpercayaan. Benih yang butuh tumbuh dan berkembang, benih yang butuh wadah untuk menghasilkan kelopak baru dimana benih tersebut adalah kami, mahasiswa baru itu sendiri. Dari Bradanaya kami tumbuh, menepis segala ketidakpercayaan, menggilas ucapan rendah tentang betapa suramnya masa depan lulusan kami. Tidak, tentu saja tidak akan terjadi. Masa depan sesorang tergantung cara ia memantaskan dirinya saat ini. Mau jadi apapun engkau, pantaskan dulu mulai dari sekarang, layak atau tidak. Pekerjakan bukan goals dari gelar sarjana, melainkan seberapa bermanfaatkah dirimu ke masyarakat selama menempuh masa itu. Dan Bradanaya telah menumbuhkan jiwa baru, manusia baru untuk melakukan perubahan di lingkungannya dengan tanggung jawab serta pandangan yang berbeda. Itulah kami, karsa dari Bradanaya 2019 yang mengusung tema "Manusia Baru". Dan apakah manusia baru itu siap menghadapi dunianya? Kita lihat saja.

Surabaya, 15 Agustus 2019


celoteh

kalian sering gak sih? merasa capek, jenuh, atau kalau nggak merasa bahwa diri kalian berada dalam posisi yang sangat asing. bukan, maksudku...