Puisi Meja Makan
Meilisa Dwi Ervinda, Bahasa dan Sastra Indonesia 2019
Selamat datang wahai saudaraku
Duduklah, aku ingin mengajakmu bersemayam dalam nikmatnya suguhan malam ini
Di temani aroma sedap kebebasan
Tak lupa sambal level kebiadaban
Ambil piring sendiri, kau bukan raja yang harus dilayani
Bak pemimpin negeri yang tiap lima tahun ganti
Menjejali kami puding janji bertoping gulali
Ah positif sudah rakyatnya sakit gigi
Hanya ada tiga menu, pembuka isi penutup
Kau mau yang mana?
Pilih salah satu, meja kenegaraan ini hanya menginginkan satu kepastian
Bukan kenikmatan sesaat, lalu diterapkan, mencekik orang kelaparan
Oh pilihan yang bagus
Kau langsung memilih kue bertabur emas
Baiklah, bagaimana rasanya? Apa mewakili kemerdekaanmu? Atau malah melebihi ekspektasimu?
Tenang saja, meja ini terbuka 24 jam untuk siapapun, kau boleh datang lagi dan lagi
Asal ada jaminan, kau termasuk orang yang merdeka atau pura pura merdeka?
Sebab, makanan ini dibuatnya pakai dana bukan bualan saja.
Mari saudaraku
Apakah mau berlanjut menjelajah ke lemari kecantikan?
Gresik, 31 Agustus 2019
Blog yang penulis buat, hanya untuk memberi informasi dan pengetahuan kepada pembaca, juga menuangkan kreasi penulis.Tidak bermaksud untuk menyinggung maupun merugikan orang lain.
Senin, 23 September 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
celoteh
kalian sering gak sih? merasa capek, jenuh, atau kalau nggak merasa bahwa diri kalian berada dalam posisi yang sangat asing. bukan, maksudku...
-
apa menurut kalian mengikuti sebuah kepanitiaan itu gak penting? atau bukan-bukan, lebih tepatnya mengapa sebuah kepanitiaan sekarang ini sa...
-
A ngin menari beriringan,melambaikan tangan pada rintik hujan yang bersenandung. Menyisakan hawa dingin dan genangan air yang tak dapat ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar