Sabtu, 07 Maret 2020

Bersama Kakek



Angin menari beriringan,melambaikan tangan pada rintik hujan yang bersenandung. Menyisakan hawa dingin dan genangan air yang tak dapat mengalir sempurna. Seorang gadis kecil semakin mengeratkan pelukan pada tas yang dia bawa. Menunggu kristal bening itu berhenti jatuh, berharap ia akan segera pulang dan menarik selimut dengan nyaman.
Dari jauh, terlihat payung bergerak mendekat, sosok kakek tua yang mengendalikannya menerobos kristal, menghampiri gadis tersebut dan menghampurkan pelukan padanya. “Icca, menunggu lama ya, maafkan kakek, hujan sangat lebat jadi kaki kakek tak bisa berjalan cepat” ujar sang kakek memberi penjelasan. “ Icca gak lama kok, Icca cuma lapar”ucap sang gadis dengan menyeringai. “Ohh.. cucu kakek lapar, iya ayo sini kakek gendong, sayang kan nanti sepatunya basah” lanjut sang kakek sambil menaruh payung dn berganti menaikkan gadis kecil itu ke punggung rentanya. Perjalanan pulang mereka diiringi senandung ria dari gadis kecil bernama Icca tersebut. Membuat cipratan kecil bersama langkah kaki dan obrolan hangat di musim penghujan.
Suara hewan malam bersautan, membuat lagu yang berirama dan terdengar merdu seakan menghiasi rumah kecil di pojok sungai. Iya tempat tinggal gadis kecil dan kakeknya. “Begini Kek, apa terlalu keras?” tanya Sang gadis, “Ya seperti itu, lebih ditekan lagi, nah pinter sekali cucu Kakek ,” pujinya. Icca membetulkan posisi duduknya, menekan lebih keras punggung renta tersebut. Beginilah akibatnya, saat Sang Kakek bersikeras untuk menggendong dirinya, padahal berat badan Icca tidak ringan lagi. Gadis usia 7 tahun yang sangat pendai di sekolah itu dengan polosnya menawarkan diri untuk memijat kakeknya.
“Kakek...”Icca berkata sambil mengoleskan minyak gosok.
“Iya sayang.. ada apa? Coba katakan pada kakek” ujar kakek
“Besok Bu Guru menyuruh orang tua murid untuk datang ke sekolah mengambil hasil nilai ujian minggu lalu” Icca menarik napas “Tapi...Icca” lanjutnya. “ Tapi kenapa cantik,kan ada kakek,  kakek yang akan mengambil rapor itu, dan... melihat nilainya, apakah nilai Icca merah seperti sambal yang tadi kita makan, atau... biru seperti awan, hayoo awas ya kalau merah, haha”ucap kakek sambil menggelitiki Icca, Icca seakan tak bisa berhenti tertawa. “Ampun kek, ampun.. haha geli” ucap Icca. Tak lama kemudian Icca tertidur di pangkuan kakeknya, “Andai saja mereka disini, pasti.. pasti Icca akan sangat bahagia” ujar kakek dalam hati.
Kakek berkata “Wahh.. cucu kakek pinter ya, nilainya bagus semua, apa lagi tadi Icca dapat juara kelas kan, Selamat ya Sayang.” Kakek dan Icca baru saja keluar dari ruang kelas, Icca mendapatkan juara kelas, Icca memang tergolong anak yang pandai dan mudah bergaul di sekolah. Tak salah kalau banyak yang memuji Icca saat Ia mendapat juara tadi. Icca berhenti melangkah,”Kenapa nak?” tanya kakek. Kakek mengikuti arah pandang Icca. Seorang anak dan orang tuanya sedang bercanda, sang ibu mengelus rambut anak tersebut, mencium pipinya dan memeluknya, dan sang ayah memberikan kotak hadiah. Mereka tertawa bersama. Mungkin anak itu sama seperti Icca, telah mendapatkan juara kelas, atau nilainya sangat bagus, jadi orang tuanya memberi hadiah. tapi bukan itu yang menjadi masalah.
Icca melamun menyaksikannya, melihat ayah dan ibu anak tersebut begitu menyayanginya. Icca seakan diperlihatkan pada hal yang sangat Ia inginkan. Dada kakek seakan mendapat hantaman keras, menyaksikan cucu kesayanganya, menginginkan hal tersebut meski tanpa berucap. Seketika itu, kakek langsung mengajak Icca pulang.
Icca masih diam sejak kejadian tadi siang, kakek bingung harus apa. “Icca.. mau ikut kakek?” tanya kakek. “Tidak kek, Icca tidak berminat” “ Kakek mau menujukkan sesuatu.. pasti Icca senang” bujuk Kakek. Gadis kecil itu tetap diam. Kakek mendekat dan mengelus rambut Icca. “ Ayo sayang.. kita naik sepeda, jadi gak capek”ujar kakek. Icca mengikuti kakek dan naik di sepeda. Kakek menggayuh dengan sekuat tenaga, kakek berteriak “Merdeka... Merdeka.. gayuh seperti pahlawan yang berperang Merdeka..” Icca tertawa mendengar suara kakek yang teriak teriak. Icca ikut berteriak bersama kakek.
Di hulu sungai yang luas, dengan air yang mengalir deras, disinilah Icca dan kakeknya berada. “dulu.. waktu ayah kamu masih kecil, kakek sering mengajaknya kemari, hanya sekedar untuk menangkap ikan, ataupun mandi di sungai dan membuat kapal kapalan dari daun yang kering. Sekarang.. meski ayah kamu tidak ada, tapi anaknya sudah besar. Icca mau main kapal kapalan, seperti almarhum ayah Icca dulu” tawar sang kakek. “ mau kek, Icca mau buat kapal kapalan seperti ayah. Lalu nanti kapalnya mengalir bersama air dan sampai ke ayah yang ada disana. Buatkan Icca kapal kek” ucap Icca dengan riangnya.
Setelah membuat kapal dan melepaskannya diatas sungai yang megalir dalam hati Icca berdoa agar kapal tersebut bisa menyampaikan kerinduanya pada sosok ayah yang tak pernah Ia lihat. Kakek tersenyum, menyaksikan cucunya yang berjingkrak saat kapalnya mendahului milik sang kakek.
Kemudian sang kakek membawa Icca ke tempat pohon beringin besar. Di balik pohon itu, terlihat pemandangan gunung yang indah dan sungai yang mengalir, burung burung yang berterbangan seakan akan kembali ke rumahnya masing masing. Pemandangan sore hari yang indah dengan sinar matahari yang menyertainya. “Icca, satu lagi, kakek juga mengajak ayahmu dulu kesini. Lihat di batang pohon beringin itu.” Perintah sang kakek, Icca mendekat, seperti ada ukiran yang menempel di pohon tersebut. “itu adalah nama ayahmu dan kakek, ayahmu yang membuatnya. Katanya agar kakek selalu ingat kalau ayahmu selalu sayang pada kakek” jelas sang kakek sambil menghapus sela di matanya. “ ayahmu adalah orang yang sangat penurut dan pintar seperti kamu, kakek sangat ingat Ia rela kehujanan demi membantu kakek mengumpulkan kayu di hutan, lalu Ia sakit. Haha” sambil tertawa. Icca terdiam mendengarnya, airmatanya terus mengalir, tangan kecilnya terus mengelus nama yang ada di pohon tersebut. “sekarang Icca juga begitukan, sangat baik pada kakek. Kakek sayang sekali pada Icca” kakek mendekati Icca dan mengelus rambutnya.
“maafkan Icca kek, Maafkan Icca yang menginginkan hal yang tidak ada, maafkan Icca yang merepotan kakek. Icca sangat sayang pada kakek” jawab Icca sambil memberikan secarik surat. “Apa ini.. cucu kakek sudah bisa membuat surat sendiri” “itu surat khusus untuk Kakek” ucap Icca sambil memeluk pinggang kakeknya. Setelah itu mereka pulng ke rumah dan kakek membaca surat tersebut di rumah ditemani hewan malam yang berirama.

Dear Kakek Icca tersayang

            Hari ini kata teman Icca adalah hari ayah. Tapi Icca gak tau harus mengucapkan hari ayah pada siapa. Icca tak punya ayah sejak Icca dilahirkan. Bagi Icca, kakek adalah orang tua Icca yang sangat berharga, Icca bangga punya kakek yang kuat dan hebat seperti kakek Icca. Icca minta maaf jika Icca nakal atau tidak menuruti perintah kakek, Icca sayang...sekali pada kakek. Semoga kakek selalu sehat dan terus bersama Icca hingga Icca menjadi dokter nanti. Selamat Hari Kakek, untuk kakek Icca tersayang.

Peluk cinta dari Icca

            Kakek mengusap air matanya. Icca kembali mendengkur di pangkuan kakeknya. Senyum tipis yang terlihat dari wajah Icca membuat kakek ikut tersenyum. Gadis kecil yang memiliki pengertian dan kesederhanaan itu sangat membuat bangga kakeknya. Kebahagiaan yang Ia dapatkan adalah saat  gadis kecil itu menerima sosok kakek yang sangat ia cintai dan ada bersamanya dirinya saat ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

celoteh

kalian sering gak sih? merasa capek, jenuh, atau kalau nggak merasa bahwa diri kalian berada dalam posisi yang sangat asing. bukan, maksudku...