Angin
menari beriringan,melambaikan tangan pada rintik hujan yang bersenandung.
Menyisakan hawa dingin dan genangan air yang tak dapat mengalir sempurna.
Seorang gadis kecil semakin mengeratkan pelukan pada tas yang dia bawa.
Menunggu kristal bening itu berhenti jatuh, berharap ia akan segera pulang dan
menarik selimut dengan nyaman.
Dari
jauh, terlihat payung bergerak mendekat, sosok kakek tua yang mengendalikannya
menerobos kristal, menghampiri gadis tersebut dan menghampurkan pelukan
padanya. “Icca, menunggu lama ya, maafkan kakek, hujan sangat lebat jadi kaki
kakek tak bisa berjalan cepat” ujar sang kakek memberi penjelasan. “ Icca gak
lama kok, Icca cuma lapar”ucap sang gadis dengan menyeringai. “Ohh.. cucu kakek
lapar, iya ayo sini kakek gendong, sayang kan nanti sepatunya basah” lanjut
sang kakek sambil menaruh payung dn berganti menaikkan gadis kecil itu ke
punggung rentanya. Perjalanan pulang mereka diiringi senandung ria dari gadis
kecil bernama Icca tersebut. Membuat cipratan kecil bersama langkah kaki dan
obrolan hangat di musim penghujan.
Suara
hewan malam bersautan, membuat lagu yang berirama dan terdengar merdu seakan
menghiasi rumah kecil di pojok sungai. Iya tempat tinggal gadis kecil dan
kakeknya. “Begini Kek, apa terlalu keras?” tanya Sang gadis, “Ya seperti itu,
lebih ditekan lagi, nah pinter sekali cucu Kakek ,” pujinya. Icca membetulkan
posisi duduknya, menekan lebih keras punggung renta tersebut. Beginilah
akibatnya, saat Sang Kakek bersikeras untuk menggendong dirinya, padahal berat
badan Icca tidak ringan lagi. Gadis usia 7 tahun yang sangat pendai di sekolah
itu dengan polosnya menawarkan diri untuk memijat kakeknya.
“Kakek...”Icca
berkata sambil mengoleskan minyak gosok.
“Iya
sayang.. ada apa? Coba katakan pada kakek” ujar kakek
“Besok
Bu Guru menyuruh orang tua murid untuk datang ke sekolah mengambil hasil nilai
ujian minggu lalu” Icca menarik napas “Tapi...Icca” lanjutnya. “ Tapi kenapa
cantik,kan ada kakek, kakek yang akan
mengambil rapor itu, dan... melihat nilainya, apakah nilai Icca merah seperti sambal
yang tadi kita makan, atau... biru seperti awan, hayoo awas ya kalau merah,
haha”ucap kakek sambil menggelitiki Icca, Icca seakan tak bisa berhenti
tertawa. “Ampun kek, ampun.. haha geli” ucap Icca. Tak lama kemudian Icca
tertidur di pangkuan kakeknya, “Andai saja mereka disini, pasti.. pasti Icca
akan sangat bahagia” ujar kakek dalam hati.
Kakek
berkata “Wahh.. cucu kakek pinter ya, nilainya bagus semua, apa lagi tadi Icca
dapat juara kelas kan, Selamat ya Sayang.” Kakek dan Icca baru saja keluar dari
ruang kelas, Icca mendapatkan juara kelas, Icca memang tergolong anak yang
pandai dan mudah bergaul di sekolah. Tak salah kalau banyak yang memuji Icca
saat Ia mendapat juara tadi. Icca berhenti melangkah,”Kenapa nak?” tanya kakek.
Kakek mengikuti arah pandang Icca. Seorang anak dan orang tuanya sedang
bercanda, sang ibu mengelus rambut anak tersebut, mencium pipinya dan
memeluknya, dan sang ayah memberikan kotak hadiah. Mereka tertawa bersama.
Mungkin anak itu sama seperti Icca, telah mendapatkan juara kelas, atau
nilainya sangat bagus, jadi orang tuanya memberi hadiah. tapi bukan itu yang
menjadi masalah.
Icca
melamun menyaksikannya, melihat ayah dan ibu anak tersebut begitu
menyayanginya. Icca seakan diperlihatkan pada hal yang sangat Ia inginkan. Dada
kakek seakan mendapat hantaman keras, menyaksikan cucu kesayanganya,
menginginkan hal tersebut meski tanpa berucap. Seketika itu, kakek langsung
mengajak Icca pulang.
Icca
masih diam sejak kejadian tadi siang, kakek bingung harus apa. “Icca.. mau ikut
kakek?” tanya kakek. “Tidak kek, Icca tidak berminat” “ Kakek mau menujukkan
sesuatu.. pasti Icca senang” bujuk Kakek. Gadis kecil itu tetap diam. Kakek mendekat
dan mengelus rambut Icca. “ Ayo sayang.. kita naik sepeda, jadi gak capek”ujar
kakek. Icca mengikuti kakek dan naik di sepeda. Kakek menggayuh dengan sekuat
tenaga, kakek berteriak “Merdeka... Merdeka.. gayuh seperti pahlawan yang
berperang Merdeka..” Icca tertawa mendengar suara kakek yang teriak teriak.
Icca ikut berteriak bersama kakek.
Di
hulu sungai yang luas, dengan air yang mengalir deras, disinilah Icca dan
kakeknya berada. “dulu.. waktu ayah kamu masih kecil, kakek sering mengajaknya
kemari, hanya sekedar untuk menangkap ikan, ataupun mandi di sungai dan membuat
kapal kapalan dari daun yang kering. Sekarang.. meski ayah kamu tidak ada, tapi
anaknya sudah besar. Icca mau main kapal kapalan, seperti almarhum ayah Icca
dulu” tawar sang kakek. “ mau kek, Icca mau buat kapal kapalan seperti ayah.
Lalu nanti kapalnya mengalir bersama air dan sampai ke ayah yang ada disana.
Buatkan Icca kapal kek” ucap Icca dengan riangnya.
Setelah
membuat kapal dan melepaskannya diatas sungai yang megalir dalam hati Icca
berdoa agar kapal tersebut bisa menyampaikan kerinduanya pada sosok ayah yang
tak pernah Ia lihat. Kakek tersenyum, menyaksikan cucunya yang berjingkrak saat
kapalnya mendahului milik sang kakek.
Kemudian
sang kakek membawa Icca ke tempat pohon beringin besar. Di balik pohon itu,
terlihat pemandangan gunung yang indah dan sungai yang mengalir, burung burung
yang berterbangan seakan akan kembali ke rumahnya masing masing. Pemandangan
sore hari yang indah dengan sinar matahari yang menyertainya. “Icca, satu lagi,
kakek juga mengajak ayahmu dulu kesini. Lihat di batang pohon beringin itu.”
Perintah sang kakek, Icca mendekat, seperti ada ukiran yang menempel di pohon
tersebut. “itu adalah nama ayahmu dan kakek, ayahmu yang membuatnya. Katanya
agar kakek selalu ingat kalau ayahmu selalu sayang pada kakek” jelas sang kakek
sambil menghapus sela di matanya. “ ayahmu adalah orang yang sangat penurut dan
pintar seperti kamu, kakek sangat ingat Ia rela kehujanan demi membantu kakek
mengumpulkan kayu di hutan, lalu Ia sakit. Haha” sambil tertawa. Icca terdiam
mendengarnya, airmatanya terus mengalir, tangan kecilnya terus mengelus nama
yang ada di pohon tersebut. “sekarang Icca juga begitukan, sangat baik pada
kakek. Kakek sayang sekali pada Icca” kakek mendekati Icca dan mengelus
rambutnya.
“maafkan
Icca kek, Maafkan Icca yang menginginkan hal yang tidak ada, maafkan Icca yang
merepotan kakek. Icca sangat sayang pada kakek” jawab Icca sambil memberikan
secarik surat. “Apa ini.. cucu kakek sudah bisa membuat surat sendiri” “itu
surat khusus untuk Kakek” ucap Icca sambil memeluk pinggang kakeknya. Setelah
itu mereka pulng ke rumah dan kakek membaca surat tersebut di rumah ditemani
hewan malam yang berirama.
Dear Kakek Icca tersayang
Hari
ini kata teman Icca adalah hari ayah. Tapi Icca gak tau harus mengucapkan hari
ayah pada siapa. Icca tak punya ayah sejak Icca dilahirkan. Bagi Icca, kakek
adalah orang tua Icca yang sangat berharga, Icca bangga punya kakek yang kuat
dan hebat seperti kakek Icca. Icca minta maaf jika Icca nakal atau tidak
menuruti perintah kakek, Icca sayang...sekali pada kakek. Semoga kakek selalu
sehat dan terus bersama Icca hingga Icca menjadi dokter nanti. Selamat Hari
Kakek, untuk kakek Icca tersayang.
Peluk cinta dari
Icca
Kakek mengusap air matanya. Icca
kembali mendengkur di pangkuan kakeknya. Senyum tipis yang terlihat dari wajah
Icca membuat kakek ikut tersenyum. Gadis kecil yang memiliki pengertian dan
kesederhanaan itu sangat membuat bangga kakeknya. Kebahagiaan yang Ia dapatkan
adalah saat gadis kecil itu menerima
sosok kakek yang sangat ia cintai dan ada bersamanya dirinya saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar