Titipan Luka Bahagia
Oleh Meilisa Dwi Ervinda
Angin merangkak dalam pekatnya siang
Mencumbu dedaunan yang meluruh
Meniupkan mantra penggoda
Hingga kelak kau yang merasakan
kenikmatannya
Satu, dua, tiga, kembali kau menyapa
Lagi lagi ku tak menggubrisnya
Inginku hadiahi selotip pada mulut
manismu
Menganyamnya dengan seksama, hingga
tiada lagi dusta menguak dari cerobong cantikmu
Empat, lima, enam, cercaanmu menggelora
Aku hanya wanita biasa, tak bisa makan
sebab tak punya
Menguras kamar mandipun aku lillah
Demi dapat mengenyam bangku kuliah, tak
seperti kau yang hanya tau minta
Tujuh, delapan ada akhir cerita
Ibu menitipkanmu padaku tanpa kata di
akhir hidupnya
Mengukir tawa dan luka secara bersama
Bahwa aku muslim dan kau memilih jalan yang
berbeda, Adikku
Yang penting uang bulanan harus tetap
tersedia, iya kan?
Surabaya, 09 Oktober 2019
sumber foto : google
