Rabu, 16 Oktober 2019

Titipan Luka Bahagia


Titipan Luka Bahagia
Oleh Meilisa Dwi Ervinda


Angin merangkak dalam pekatnya siang
Mencumbu dedaunan yang meluruh
Meniupkan mantra penggoda
Hingga kelak kau yang merasakan kenikmatannya

Satu, dua, tiga, kembali kau menyapa
Lagi lagi ku tak menggubrisnya
Inginku hadiahi selotip pada mulut manismu
Menganyamnya dengan seksama, hingga tiada lagi dusta menguak dari cerobong cantikmu

Empat, lima, enam, cercaanmu menggelora
Aku hanya wanita biasa, tak bisa makan sebab tak punya
Menguras kamar mandipun aku lillah
Demi dapat mengenyam bangku kuliah, tak seperti kau yang hanya tau minta

Tujuh, delapan ada akhir cerita
Ibu menitipkanmu padaku tanpa kata di akhir hidupnya
Mengukir tawa dan luka secara bersama
Bahwa aku muslim dan kau memilih jalan yang berbeda, Adikku
Yang penting uang bulanan harus tetap tersedia, iya kan?

Surabaya, 09 Oktober 2019



sumber foto : google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

celoteh

kalian sering gak sih? merasa capek, jenuh, atau kalau nggak merasa bahwa diri kalian berada dalam posisi yang sangat asing. bukan, maksudku...