Sabtu, 07 Maret 2020

GORESAN SENI DARI BU HAR


GORESAN SENI DARI BU HAR
Oleh Meilisa Dwi Ervinda
Ruangan ukuran 4x5 meter itu terasa sunyi, setiap sudutnya pasti ada barang barang antik yang menempel. Yang paling mencolok adalah lukisan ukuran 1x1,5 meter yang berisi seorang wanita paruh baya sedang bersimpuh di kaki lelaki jakun berkulit putih, wanita paruh baya tersebut seakan memohon ampun. Di belakangnya terdapat goresan pedang yang amat mengerikan, mengisahkan penderitaan yang tak kunjung usai, dengan awan hitam dan debu terbang yang meninggi. Selain lukisan tersebut, terdapat banyak lagi lukisan-lukisan kecil di sebelahnya. Di bawah lukisan wanita paruh baya terdapat ranjang untuk satu orang dan meja kecil di sebelah kirinya. Sebuah easel tempat kanvas menggantung itu berdiri tegak di samping lemari kecil. Cat air, cat minyak, maupun kuas berbagai ukuran tergeletak di mana-mana. Untuk ukuran pencahayaan, memang diakui bahwa pengatur ruangan itu sangat ahli sehingga ruangan itu sangat nyaman. Jika orang yang tidak tahu pasti ruangan itu dikira tempat pameran lukisan yang harganya amat sepadan dengan karya yang dibuat.
Seorang pria berusia 24 tahun duduk termenung, menggerak gerakkan kuasnya. Memandang lekat lukisan yang baru dibuatnya. Tangannya masih penuh dengan bekas cat yang setia menempel, ia terpaku, mengingat kembali masa dimana sebelum Ia mengenal dunia yang unik ini.
“kamu harus punya mimpi nak. Semua orang wajib memiliki mimpi dimasa depan mereka,” ujar wanita berkacamata dengan hijab seadanya.
“tapi bu. Saya hanya anak pemulung. Buat apa mimpi toh semua juga cuma ngayal tok” bantah seoarang anak dengan tubuh kurus dan rambut keriting.
“ya.. untuk itu, buktikan kalau anak pemulung bisa juga sukses seperti yang lain. Kamu harus yakin An,” dengan nada yang meninggi. Mencoba meyakinkan anak laki-laki di depannya. “saya bingung bu. Saya gak mau bahas mimpi. Isinya cuma kayak gelas plastik yang lusuh, kosong belaka” ujar laki-laki bernama Aan.
Aan mengambil buku tugasnya lalu keluar, mengabaikan perempuan berkacamata yang menatapnya dengan lamat. Mencoba berharap bahwa murid kesayangannya itu percaya pada ucapanya.
 Aan setiap harinya mencari botol plastik, kardus, kaleng, dan benda lain yang bisa dijual. Ia membantu ibunya mencari nafkah. Semenjak bapaknya meninggal setahun yang lalu, ia dipaksa untuk menjalani hidup dengan tekanan yang berat. Apalagi Aan memilki seorang adik perempuan yang menjadi tanggung jawabnya. Kini Aan adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab atas kehidupan ibu dan adiknya.
Ketika itu, Aan tak sengaja mencari barang rongsokan ke kompleks temoat tinggal gurunya. Iya, Bu Har memergoki murid terpandainya memilah-milah sampah. Aan terkejut dan ia langsung lari saat Bu Har menyapanya dan mengajaknya masuk ke dalam. Betapa gelisahnya Aan saat  guru killer di sekolah itu tau kalau ia memulung. Entah ejekan dari teman-temanya saja sudah membuat tangannya mengepal, apalagi kalau sampai guru-guru lain juga tau soal ini, bisa-bisa ia akan semakin dijatuhkan. “kenapa semuanya sangat menyiksa”batin Aan.
Hari-hari Aan makin menjadi, tiap ujaran kebencian dan olokan teman temannya makin menghantui hidupnya. Mereka tak segan-segan menghina dan memukul Aan. Apalagi saat Aan mendapat  peringat kelas, teman teman yang tak menyukainya menyebarkan berita tak benar bahwa hasil ulangannya itu menyontek. Sabar, Aan belajar kata itu, ia ingat pada nasehat ibunya.
Bu Har, guru yang paling ditakuti itu membelanya, mengungkap fitnah itu, dan menjadikan dirinya sebagai orang kepercayaan Bu Har. Aan semakin dekat dengan Bu Har. Tak jarang Aan menghabiskan banyak waktu untuk membantu Bu Har memasukkan nilai, bahkan Bu Har mengajarinya bermain dnegan kuas.. Dari Bu Har pula ia mengetahui tentang indahnya dunia seni yang mengekspresikan setiap pembuatnya.
“mimpi itu seperti cat ini An,” sambil mengoleskan kuas pada kanvas. “ dan kuas adalah usahamu. Saat kamu punya kuas saja, tanpa kamu miliki cat nya. Kamu tak akan menghasilkan lukisan dari mimpi-mimpimu yang di namakan dari  hasil usaha.” Jelas Bu Har pada Aan.
“keyakinanmu, tekadmu, dan kemampuanmu bisa melebihi orang yang menghinamu saat ini” lanjut Bu Har dengan mencampurkan warna kuning dan merah, menambahkan sedikit air lalu mengaduknya, mengoleskan warna orange dan membuat gradasi senja yang mengesankan. “ saat kamu benar benar merasa lelah pada kehidupan yang kamu jalani, tengoklah sebentar, tengok ciptaan Tuhan yang begitu mengesankan ini, rasakan tiap kenikmatan yang Tuhan beri padamu. Hidup tak hanya untuk mengurusi hinaan orang lain,hidup itu untuk mengabdi, pada Tuhan, pada keluarga yang kamu sayangi, pada kewajiban-kewajiban yang kamu tanggung. Dan pada mimpi, mimpi tempatmu menggantungkan masa depanmu kelak” Bu Harni membetulkan kerudungnya yang agak bergeser. Aan tak berkomentar apapun, ia mendengarkan dnegan seksama, memainkan kuas kecli yang ia pegang.
“mulailah hari ini, jangan bingung mimpi apa yang kamu inginkan, jalani saja apa yang kamu suka, semua pasti ada jalanya. Dulu ibu juga begitu, bimbang pada keadaan yang tidak memungkinkan, ibu bahkan tak punya pegangan apapun, tak punya siapapun untuk membagi curahan hati  ibu. Kalau kamu bimbang kamu bisa tanyakan pada ibu, anggap saja ibu ini tempatmu mengaduk warna yang akan kamu oleskan. Haha.. ibu terlalu banyak bicara padamu, dan kamu hanya diam saja tak merespon apapun” Bu Har meletakkan kuasnya, kemudian berdiri dan menuju laci kecil di sudut ruang seni. Mengambil kotak berwarna coklat dan memberikanya pada Aan.
“ini, simpan baik baik. Nanti kalau kamu udah lulus dan melanjutkan perjalananmu kamu selalu ingat ini. Ibu hanya berharap kamu segera punya mimpi yang akan kamu capai nantinya” Bu Har tersenyum pada Aan. Aan menerimanya dengan tanda tanya. Bagaimana gurunya bisa sebaik ini padanya. Padahal ia bukan siapa-siapa, Bu Har mengajarinya soal mimpi. Mimpi yang harus ia miliki, ia harus bermimpi. Wajah Aan berubah, ia seperti menemukan hal yang di carinya.
Pria itu mengembuskan nafas berat, seakan kehidupannya yang dulu tak bisa hilang dari ingatan, olokan dan kekerasan batin yang dialaminya menjadi hantu masalalu yang membayang-bayangi. Bu Har, apa kabar beliau sekarang, berkat beliau, ia bisa menjadi seniman sukses. Karyanya seakan menjadi sorotan baik di nasional maupun mancanegara. Ia tak pernah menyangka, hanya karena kotak coklat pemberian Bu Har bisa berdampak besar bagi masa depannya.
Aan mencuci tangannya, kembali memandang hasil goresan kuasnya, beranjak mengambil dan membuka kotak coklat itu, sebuah foto tokoh terkenal bernama Leonardo da Vinci berad di dalamnya. Tokoh yang masuk kedalam 10 pelukis paling terkenal di dunia dan pemilik beragam bidang dari seni dan ilmu. Menciptakan lukisan Jamuan Terakhir  dan Monalisa. Ia mencari tau siapa tokoh itu dan menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan panjangnya.Dalam hati, ia berterimah kasih kepada Bu Har, orang yang mengenalkannya pada Leonardo  da Vinci dan pada seni yang di cintainya kini.
Ketahuilah, bahwa mimpi memang bagaikan cat yang akan menciptakan warna indah didalam tiap usaha yang mengalir seperti kuas yang bergerak menuntun cat tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

celoteh

kalian sering gak sih? merasa capek, jenuh, atau kalau nggak merasa bahwa diri kalian berada dalam posisi yang sangat asing. bukan, maksudku...